Selasa, 14 Februari 2017 – Yesus Tempat Berlindung yang Sejati

christ_on_corcovado_mountain

Amsal 30:26

Renungan Harian Keluarga – Lemah berarti tidak kuat dan tidak bertenaga serta tidak memiliki daya dorong yang kuat  untuk mempertahankan sesuatu. Manusia sering menyebut dirinya sebagai makhluk yang lemah, ini berarti setiap saat ia merasa terancam oleh tawaran-tawaran Iblis. Manusia menjadi sasaran empuk bagi Iblis. Jika demikian apa yang harus ia lakukan? Lihatlah kepada pelanduk.

Baca lebih lanjut

Senin, 13 Februari 2017 – Belajarlah pada Semut

200494870-001

Amsal 30:25

Renungan Harian Keluarga – Kemalasan telah menjadi sebuah realitas dalam kehidupan saat ini, kurangnya lapangan kerja, persaingan yang ketat dan minimnya sumber daya manusia menjadi alasan pembenaran terhadap kemalasan. Persoalan kerja (malas) menjadi sorotan para guru hikmat (Penulis Amsal), maka mereka berupaya mengajarkan agar umat memiliki hikmat sebagai panduan hidup dengan maksud untuk mencapai kehidupan sesuai dengan kehendak Allah agar keberhasilan dalam hidup dapat dinikmati. Firman saat ini mengajarkan sebuah prinsip yang menegur perilaku umat supaya bangkit dan bekerja untuk melakukan pembaharuan hidup.

Baca lebih lanjut

MTPJ 12 – 18 Februari 2017

Petani memanen cengkeh di Nyatnyono, Ungaran, Kabupaten Semarang, Jateng, Sabtu (25/7).

TEMA BULANAN :“Bekerja Dalam Ketaatan”
TEMA MINGGUAN :“Kerja Keras, Cerdas dan Tuntas
Bahan Alkitab :Amsal 30:24-31

ALASAN PEMILIHAN TEMA

Iman Kristen pada hakikatnya hanya berlandaskan pada anugerah keselamatan Allah dan bukan upaya rohani dari manusia. Prinsip iman dan spiritualitas inilah yang memungkinkan kita dapat menghayati pekerjaan yang dilandasi oleh penyangkalan terhadap keinginan.  Sehingga pada satu pihak kita terdorong untuk bekerja dengan sikap tekun, ulet, jujur, disiplin diri dan menolak kerja sebagai beban, kemalasan serta godaan kenikmatan; tetapi pada pihak lain semua tugas dan kewajiban kita lakukan dengan penuh kegembiraan dan sukacita.  Hasil dari spiritualitas demikian merefleksikan bahwa pekerjaan dilandasi oleh syalom. Sebab hakikat pekerjaan dihayati sebagai wujud dari anugerah keselamatan Allah untuk menikmati berkat (kesuksesan). Karena itu pemaknaan tentang spiritualitas kerja tidak lagi tertuju kepada diri sendiri dan komunitas kerja (sesama) tetapi secara definitif (pasti) diarahkan untuk kemuliaan nama Tuhan.

Baca lebih lanjut

Sabtu, 11 Februari 2017 – Teguran yang Menyelamatkan

people-2.jpg

2 Tesalonika 3:15

Renungan Harian Keluarga – Pada renungan kemarin  dikatakan jangan bergaul dengan orang pemalas (menolak ajaran Paulus), namun jemaat tidak boleh memusuhi dan memperlakukan mereka dengan kasar. Sebab, seseorang jika dimusuhi akan sulit baginya untuk mawas diri dan berbalik. Orang yang bersalah itu harus ditegur tanpa rasa benci, ditegur sebagai saudara.

Baca lebih lanjut

Jumat, 10 Februari 2017 – Tidak Bergaul dengan Penolak Firman Tuhan

pexels-photo-42384.jpeg

2 Tesalonika 3:14

Renungan Harian Keluarga – Ayat ini dimaksudkan sebagai antisipasi kemungkinan para pemalas menolak apa yang diajarkan oleh Paulus.  Seandainya ada yang akan menolak ajaran Paulus maka ia harus ditandai, maksudnya  bahwa orang itu dianggap sebagai ancaman bagi jemaat, dengan begitu jemaat mendidik orang itu dan dapat memberikan efek jera atau rasa malu sebab ia sementara diasingkan atau merasa terasing.

Baca lebih lanjut

Kamis, 9 Februari 2017 – Rajin Berbuat Kebaikan Untuk Jadi Berkat

gentilezza

2 Tesalonika 3:13

Renungan Harian Keluarga – Sebuah lagu Rohani Kristen yang dikarang oleh Pdt. D. Surbakti: Hidup Ini adalah Kesempatan. Marilah kita nyanyikan lagu ini, syairnya sebagai berikut: Hidup ini adalah kesempatan, hidup ini untuk melayani Tuhan, jangan sia-siakan apa yang Tuhan b’ri, hidup ini harus jadi berkat. Oh, Tuhan pakailah hidupku, selagi aku masih kuat, bila saatnya nanti, kutak berdaya lagi, hidup ini sudah jadi berkat. Barangkali inilah yang dimaksudkan oleh Rasul Paulus bahwa ia menasihati kepada semua jemaat agar tidak jemu-jemu (nyandak pastiu), tidak  kendor, tawar hati dan malas untuk bekerja. Sebaliknya melakukan hal yang benar (to do right) atau melakukan yang baik (to do well). Hal yang sama juga telah dikatakan kepada jemaat Galatia (6:9).

Baca lebih lanjut

Rabu, 8 Februari 2017 – Sukacita Menikmati Hasil Pekerjaan Sendiri

Pekerja mengangkut ikan Lemuru hasil tangkapan di Pantai Kelan, Bali, Jumat (12/12)

2 Tesalonika 3:11-12

Renungan Harian Keluarga – “Biar kalah nasi asal jangan kalah aksi” ungkapan ini menunjukkan sikap manusia mengabaikan kebutuhan makanan lalu mengutamakan penampilan diri, yakni yang dipakai. Barangkali sikap seperti inilah yang disasar oleh Paulus. Paulus sunggguh mengenal keadaan anggota jemaat di Tesalonika sebab ia dan teman-temannya mendengar bahwa ada orang (anggota jemaat) yang tidak tertib hidupnya.  Mereka ini adalah para pemalas (tidak bekerja) dan hanya sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna.

Baca lebih lanjut

Selasa, 7 Februari 2017 – Bekerjalah Supaya Dapat Makanan

eating-disorder

2 Tesalonika 3:10

Renungan Harian Keluarga – Ada sebuah  ceritera tentang Belalang dan Semut. Pada waktu musim dingin, si belalang melihat sederet semut membawa biji-bijian ke sarang mereka. Kata belalang, “Bolehkah aku mendapat sedikit makanan dari kamu ? Aku belum makan apa pun sejak kemarin; aku  hampir mati kelaparan.” Seekor semut menjawab, “Apa yang kamu lakukan sepanjang musim panas sehingga tidak punya makanan pada musim dingin ini?” Kata belalang, “Aku menghabiskan waktu untuk bernyanyi dan beribadah kepada Tuhan; Aku sibuk mempersembahkan berbagai kidung kepada-Nya sehingga aku tidak sempat mengumpulkan makanan untuk musim dingin.” Jawab semut. “Kalau begitu, berdoalah terus dan mintalah musim dingin segera pergi.” Dalam kitab Amsal disebutkan: ”Hai pemalas belajarlah kepada semut yang mengumpulkan makanan pada musim panas (Amsal 6:6).

Baca lebih lanjut

Senin, 6 Februari 2017 – Bekerjalah Supaya Tidak Menjadi Beban Bagi Orang Lain

 

Selasa, 7 Februari 2017

15696392955_101812cbe5_b

 

2 Tesalonika 3:7-8

Renungan Harian Keluarga – Mantan Ketua BPS GMIM periode 1990-1995, Pdt. K.H.Rondo pernah bekata: “Jangan kita menjadi bagian dari persoalan tetapi jadilah bagian dari jawaban”. Pernyataan ini mungkin terinspirasi dari Rasul Paulus yang memberikan  contoh bagi anggota jemaat bahwa dia dan teman-temannya tidak lalai atau giat bekerja baik sebagai penginjil maupun sebagai tukang kemah. Mereka berjerih payah siang dan malam (bekerja keras dan cerdas, tuntas dan ikhlas) supaya dapat makan dari hasil kerja sendiri dan tidak makan roti pemberian orang lain (tidak bergantung pada orang lain). Sekalipun sebenarnya anggota jemaat wajib memberi makan bagi Paulus dan teman-temannya, sebab Tuhan menetapkan bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu. (1 Korintus 9:14) Baca lebih lanjut

Minggu, 5 Februari 2017 – Berdoa dan Bekerja

petani-semangkat

2 Tesalonika 3:6

Renungan Harian Keluarga – Sekitar akhir tahun enampuluhan sampai awal tujuhpuluhan di Minahasa mulai ada acara  Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) yang dilaksanakan oleh denominasi gereja yang menekankan pemberitaannya tentang kedatangan Tuhan Yesus. Melalui  pemberitaan itu maka ada cukup banyak warga GMIM yang terpengaruh serta menganut ajaran tersebut sehingga tidak mau  menanam jagung, padi, kelapa, cengkih dan lain-lain, akibatnya susah sendiri. Sikap seperti inilah yang menjadi sasaran pengajaran Rasul Paulus. Ia mengunakan otoritas Allah dengan maksud untuk menunjukkan bahwa  ajaran/nasihat yang ia sampaikan bukan dari dirinya tetapi dari Tuhan Yesus Kristus sebagai kepala gereja. Baca lebih lanjut

MTPJ 5 -11 Februari 2017

003607

TEMA BULANAN :“Bekerja Dalam Ketaatan”
TEMA MINGGUAN :“Kerja adalah Anugerah Tuhan”
Bahan Alkitab : 2 Tesalonika 3:6-15

ALASAN PEMILIHAN TEMA

Pada prinsipnya manusia harus bekerja untuk men-dapatkan makanan dan minuman (nafkah) sehingga dapat mempertahankan kehidupannya. Dengan bekerja sebenarnya manusia mentaati firman Tuhan dan mengaktualisasikan dirinya sebagai ciptaan Tuhan yang mulia.  Selain itu juga, manusia diperintahkan untuk berkerja dan secara mandiri mendapatkan kebutuhan hidupnya sehinga tidak menjadi beban bagi orang lain. Dengan demikian, jika manusia malas atau tidak bekerja maka ia akan menganggu dan menjadi beban orang lain. Karena itu pemerintah Indonesia sekarang ini mendorong masyarakat untuk kerja, kerja dan kerja.

Baca lebih lanjut