Rabu, 30 November 2016 – Pegang Janji dan Peringatan Tuhan, Agar Kebahagiaan Dinikmati

believing-gods-promises-cropped

Mazmur 25:10-13 

Renungan Harian Keluarga – Bukankah kita harus berpegang pada suatu pengharapan? Karena  pengharapan itu adalah sauh yang kuat. Berpegang pada janji dan peringatan Tuhan, akan menikmati kebahagiaan.

Baca lebih lanjut

Selasa, 29 November 2016 – Tuhan itu Baik dan Benar

god-is-good_t_nv

Mazmur 25:7-9

Renungan Harian Keluarga – Haruslah kita sadar betul dan akui bahwa Tuhan itu baik dan benar. KebaikanNya tak terduga, sulit diprediksi dan sukar untuk diselami. Di saat dan pada waktunya Tuhan, terasa indah sekali kebaikanNya. Kalau kita sesat, Dia tunjukkan jalan, kala kita tidak paham, Dia ajarkan, Dia bimbing, bahkan Dia tidak mengingat lagi dosa-dosa kita dan beri pengampunan. Luar biasa Tuhan kita, baik bagi orang-orang yang rendah hati, bagi orang yang percaya dan bagi orang yang mengakui dosanya. Sebagai keluarga, setiap hari kita merasakan kebaikan Tuhan, kita harus aminkan bahwa Tuhan itu baik dan benar. KebenaranNya sungguh nyata dan luar biasa. Yesus berkata “Akulah Jalan, Kebenaran dan Hidup”. Tidak ada kebenaran sejati di dunia ini, hanya Tuhan kebenaran yang mutlak (absolut).

Baca lebih lanjut

Senin, 28 November 2016 – Jalan Kebenaran dan Kasih Setia Tuhan

the-way-truth-and-life

Mazmur 25:4-6

Renungan Harian Keluarga – Manusia dan jalan sepertinya 2 (dua) hal yang tidak dapat dipisahkan. Tentu orang akan bertanya mengapa? Karena manusia hidup harus berjalan dan mengikuti jalan yang benar. Jalan hidup kita di dunia ini hanya Tuhan yang tahu, karena Dialah jalan itu. Itulah sebabnya Daud berkata: “beritahukanlah dan tunjukkanlah jalan-jalan-Mu kepadaku serta bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu”. Berjalan dalam kebenaran adalah sesuatu hal yang indah dan menguntungkan, dibanding tidak berjalan dengan Tuhan. Tuhan berjalan bersama kita artinya, hidup yang kita jalani ada dalam tuntunan, lindungan  dan kasih-Nya. Seperti syair lagu ini: ‘Ku tak dapat jalan sendiri…, di jalanku ‘ku diiring oleh Yesus Tuhanku…, tiap langkahku diatur oleh Tuhan… dll. Ini semua memberi inspirasi kepada kita sebagai anggota keluarga untuk memohon agar Tuhan selalu bersama dalam tiap derap langkah di jalan hidup ini.

Baca lebih lanjut

Minggu, 27 November 2016 – Orang yang Menantikan Tuhan Tidak Mendapat Malu

Renungan Harian Keluarga – Setiap orang tidak mau dipermalukan. Karena kalau dipermalukan itu terkait dengan harga diri, naluri dan martabat. Daud mengungkapkan kepada Tuhan agar dia tidak dipermalukan oleh musuh-musuhnya yang tentu selalu berusaha untuk mengalahkan dia. Daud mengangkat jiwa, memohon kepada Tuhan, supaya Tuhan peduli kepadanya dan musuhnya tidak bersukacita apabila ia kalah. Daud percaya bahwa hanya Tuhan yang mampu memberi dia kemenangan terhadap musuhnya. Dia mengungkapkan bahwa orang yang menantikan Tuhan tidak akan mendapat malu. Sekali lagi ungkapan ini disampaikan karena Tuhan diyakininya ada bersamanya dan sanggup membelanya.

Baca lebih lanjut

MTPJ 27 November s/d 3 Desember 2016 – Minggu Adven I

human-traffic-hope

TEMA BULANAN: “Gereja yang Dibaharui Harus Terus Menerus Membaharui Diri”
TEMA MINGGUAN : “Orang Yang Menantikan Tuhan Tidak akan Mendapat Malu”
Bahan Alkitab : Mazmur 25 : 1 – 22
ALASAN PEMILIHAN TEMA

Orang banyak berpendapat bahwa menanti atau menunggu adalah suatu situasi yang tidak menyenangkan dan membosankan. Menanti  pasti akan diliputi oleh kegelisahan dan ketidakpastian apabila yang dinanti belum datang atau muncul. Yang terjadi pada seseorang yang menanti adalah penat, gerah,resah, risau bahkan ada yang ambil langkah untuk tinggalkan tempat dan abaikan kesepakatan itu. Risiko dan konsekuensi dari langkah itu berupa beban moral, biologis,  psikologis, sosiologis dan tentu dapat berpotensi munculnya rasa malu, marah, kesal, kecewa, kuatir  dan permusuhan.

Baca lebih lanjut

Sabtu, 26 November 2016 – Merayakan Keselamatan

Nahum 1:15b

Renungan Harian Keluarga – Firman Tuhan ini bernada suruhan, di mana Tuhan menyuruh umat untuk merayakan hari raya dan membayar nazar. Dalam konteks kehidupan beragama umat Israel, istilah hari raya pertama-tama menunjuk pada Hari Sabat, tetapi juga hari raya lainnya seperti Hari Raya Roti tidak Beragi (Paskah), Hari Raya 7 Minggu (Pentakosta), dan hari raya panen serta hari-hari raya lainnya. Perayaan hari raya merupakan ekspresi sukacita dan syukur atas pembebasan yang Allah anugerahkan kepada Umat Israel dari perbudakan di Mesir. Dengan perayaan hari raya itu umat bersukacita dan bergembira di dalam Tuhan.

Baca lebih lanjut

Jumat, 25 November 2016 – Pentingnya Firman Tuhan

bible-by-candlelight1

Nahum 1:15a

Renungan Harian Keluarga – Tuhan itu baik kepada semua orang. Ia peduli kepada setiap orang. Ia tak ingin manusia tersesat dan binasa, Ia tak menghendaki anak-anak-Nya tenggelam dalam lumpur dosa dan tersesah dalam derita. Salah satu bukti kebaikan Tuhan adalah Firman anugerah-Nya, yang tertulis dalam Kitab Suci. Firman anugerah-Nya yang tak henti diberitakan di mimbar-mimbar gereja. Fiman Tuhan yang kita baca ini mengajak kita untuk melihat kepada orang yang membawa berita damai sejahtera. Artinya kita diajak untuk selalu berfokus pada Firman Tuhan, dan membangun hidup di atas dasar Firman Tuhan.

Baca lebih lanjut

Kamis, 24 November 2016 – Jatuh dan Tak Bisa Bangkit Lagi

why-deals-fall-apart

Nahum 1:14

Renungan Harian Keluarga – Mungkin kita pernah mendengar lantunan lagu dari suara merdu Afgan, yang liriknya antara lain berbunyi, “aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi”. Waktu mendengarkan lantunan lagu itu hati kita mungkin berkata, “kasihan sekali”, atau berkata, “bodohnya!”, atau perkataan yang lain.

Baca lebih lanjut

Rabu, 23 November 2016 – Dilepaskan dari Beban dan Belenggu

freedom
Nahum 1:13

Renungan Harian Keluarga – Dalam hidup ini ada beban memang yang harus dipikul dan ada belenggu yang memang harus mengikat. Beban apakah itu yang harus dipikul? Itulah beban tanggung jawab. Suami harus memikul beban tanggung jawab menafkahi keluarga, istri harus memikul beban tanggung jawab menolong suami, anak-anak harus memikul beban tanggung jawab menuntut ilmu dengan tekun. Orang Kristen harus memikul beban tanggung jawab pelayanan gereja. Warga negara harus memikul beban tanggung jawab membayar pajak. Lalu soal belenggu, belenggu apa yang memang harus mengikat? Itulah ikatan komitmen suami-istri (komitmen pernikahan), komitmen kerja, komitmen pelayanan dll. Semua beban dan ikatan (belenggu) yang disebut ini adalah beban dan ikatan yang wajar. Bahkan, bukankah semua beban yang wajar itu kita pikul dengan cinta dan semua ikatan yang wajar itu kita jalani dengan rela? Dan apakah kita merasa beban itu berat? Tidak kan, apakah kita merasa ikatan itu sakit? Tidak juga kan? Malah justru beban itu menyenangkan, ikatan itu menyukacitakan. Semua karena cinta. Dengan cinta, seberat apapun beban tanggung jawab dalam keluarga, dan sekuat apapun ikatan komitmen rumah tangga, justru membahagiakan. Betapa senangnya seorang suami menyaksikan anak-istrinya duduk mengitari meja makan bersamanya dan menikmati santapan hasil kerja kerasnya. Senang dan haru bercampur dalam hati. Betapa bahagianya seorang suami yang menjalani hidup bersama isteri yang setia, yang mengikatkan diri pada komitmen pernikahan, padahal sering ditinggal pergi demi menunaikan tugas. Dalam cinta, beban seberat apapun tak’kan pernah terasa berat dan ikatan komitmen sekuat apa pun justru makin menyenangkan.

Baca lebih lanjut

Selasa, 22 November 2016 – Yang Kuat yang Terkalahkan

weakness3

Nahum 1:12

Renungan Harian Keluarga – Dalam logika manusia yang kuat pasti menang yang lemah pasti kalah. Begitulah perhitungan dari kerajaan Asyur. Dibandingkan kekuatan militer Yehuda dan bangsa-bangsa lain, kekuatan militer Asyur jauh lebih bagus, perlengkapan senjata jauh lebih lengkap, strategi jauh lebih jitu dan lebih solid. Pasukan militer Asyur jauh lebih kuat dibandingkan pasukan militer Yehuda dan bangsa-bangsa lain. Mereka berada di atas angin. Mereka pikir mereka tak terkalahkan. Tapi bagaimana dengan Tuhan? Tak ada pasukan karena hanya Dia sendiri, tak ada senjata karena sekali hentakan kaki-Nya saja bumi bergoyang. Tak ada strategi karena Dialah hikmat itu sendiri. Tapi Tuhan katakan, “mereka akan hilang terbabat dan mati binasa.”

Baca lebih lanjut

Senin, 21 November 2016 – Perancang Kejahatan

Nahum 1:11 

Renungan Harian Keluarga – Merancang kejahatan terhadap Tuhan? Beraninya. Siapakah kita lalu merancang kejahatan terhadap Tuhan? Memangnya mampu melawan Tuhan? Tetapi itulah yang dilakukan oleh kerajaan Asyur. Mereka menjadi Kerajaan yang kuat, lalu dengan kekuatannya menindas bangsa-bangsa lain termasuk Israel, bangsa pilihan Allah. Mereka telah menghancurkan Israel Utara dan membuang penduduknya ke kota-kota mereka. Lalu mereka juga hendak menggempur Israel Selatan, padahal tanpa digempur juga Israel Selatan memang telah berada di bawah penjajahan mereka. Tapi mereka masih merencanakan untuk menghancurkan Yerusalem dan memngangkut penduduknya untuk dibuang ke negeri mereka. Bagi Tuhan ini merupakan rancangan kejahatan terhadap-Nya. Memerangi Israel berarti menghadapi Allah Israel.

Baca lebih lanjut