Sejarah GMIM Sentrum Imanuel Kumelembuai

Dengan dilandasi pesan Kristus “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan babtislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Mat :28:19) maka di Eropa pada tahun 1919 berkobar semangat untuk menyebarkanagama Kristen diseluruh dunia, dengan membentuk organisasi pekabaran Injil. Salah satunya terdapat di Belanda yaitu Nederlandsch Zendeling Genootschap (NZG) satu organisasi pekabaran injil darigereja reformasi (protestan) aliran Calvin . Para zendeling tanpa mengenal lelah, dan resiko bahaya menjelajahi samudra luas, daratan, masuk keluar belantara, rawa-rawa, dengan satu tujuan emembawa anak negeri ke pangkuan Yesus Kristus.

Pada tahun 1838 dengan diantar oleh penunjuk jalan dari negeri Rumoong Bawah yang bernama Elysa dan beberapa pemuda dari negeri Winaiyan, tibalah di negeri Kumelembuai seorang bangsa kulit putih asal Jerman bernama Carl Herman untuk mengabarkan injil kepada masyarakat. Melalui kerjasama dengan Hukum Tua Timomor Langkai maka pada tanggal 2 November 1838, Pdt Carl Herman berhasil membuka sekolah Zending yang pertama, dengan jumlah murid 41 orang untuk membantu beliau dalam tugas pengajaran agama Kristen. Salah satu muridnya yang pertama adalah Yosep Pangkey dikirim oleh Carl Herman untuk melanjutkan sekolahnya di sekolah Midras Tanawangko binaan pendeta Grafland, (pencipta lagu cahaya siang). Dengan sabar dan tekun mengajar masayarakat mengenal injil selama 7 tahun, maka pada tgl18 mei 1845 diadakan babtisan pertama terhadap 11 orang dewasa dan 2 orang anak yaitu :

  1. Korneles Tanor, 31 tahun
  2. Johana Kumintjem, 18 tahun
  3. Manuel Tanor, 1 tahun
  4. Israel Langkai, 20 tahun ( Anak dari Timomor)
  5. Maria Tumbel, 14 Tahun
  6. Magdalena Kereh, 22 tahun
  7. Markus Lampus, 5 tahun
  8. Anna Pinontoaan, 65 tahun
  9. Martinus Langkai, 16 tahun
  10. Johana Tunuyu, 18 tahun
  11. Elias Pantow, 17 tahun
  12. Jeremias Lumintangtang, 17 tahun
  13. Wihelmoina Lombok, 24 tahun

Jadi dengan memakan waktu selama 7 tahun menebarkan benih injil barulah Pdt Carl Herman mulai menuai untuk Kristus dengan jumalah 13 orang yang di babtis. Hal ini disebabkan oleh kuatnya kepercayaan agama suku yang dianut masyarakat. Sebab sebelum Injil diberitaakan di tanak Kumelembuai, masyarakatnya mempunyai kepercayaan bahwa yang mengatur alam semesta adala “ OPO WAILAN WANGKO, OPO RENGRENGAAN”. Didalam menjalankan ritual kepercayaannya, mereka mempuyai pimpinan agama yaitu Walian Mamarimbing dibantu oleh ahli bunyi burung yaitu Mongkareng. Bentuk pemujaan misalnya mengelilingi batu sambil MANANI (menyanyi) “ EMPUNG RENGA RENGAAN E TURUAN LALAN KARONDORAN, TYOO ILAMPA-LAMPANE ASE LALAN KAENGKOLAN”, kemudian mereka member sesajen, “mawelet” dan si ahli bunyi burung mengambil lidi hitamdan mematahkannya sesuai denga tujuan Upacara pemujaan misalnya: Tumani in doong 99 patahan lidi hitam (99 bunyi burung OOT) dan satu patahan ( seuai bunyi burung KUIK) (Tengena KETE MAKASA) atau pentahbisan rumah yang baru sebanyak 9 lidi patahan. Patahan-patahan lidi hitam tersebut kemudian dimasukan kedalam KURE dan ditanam di bawah batu atau tiang rumah. Disamping itu masih banyak jenis upacara agama, antara lain : disaat membuka lahan, menanam dan saat panen. Dan ini semua diikuti oleh seluruh masyarakat. Itulah sebabnya karena kuatnya pengaruh agama suku maka dengan waktu 7 tahun lamanya baru diadakan batisan pertama, dan 3 bulan kemudiandiadakan babtisan yang kedua terhadap 15 orang diantaranya adalah Hukum Tua dan istrinya Timomor yang setelah dibabtis namanya diganti menjadi ABRAHAM LANGKAI.

Nama-nama yang dibabtis :

  1. Hukum Tua Abraham “Timomor” Langkai, 50 tahun
  2. Carolina Mambo, 27 tahun
  3. Jan Langkai, 34 tahun
  4. Adriana Terok, 30 tahun
  5. Hendrik Lampus, 30 tahun
  6. Paulus Tanor, 28 tahun
  7. Dorotea Tanda, 18 tahun
  8. Dina Tumiwa, 18 tahun
  9. Polina Pongantung, 18 tahun
  10. Jafet Kembuaan, 18 tahun
  11. Katharina Langkai, 30 tahun
  12. Misael Mambo, 5 tahun
  13. Daniel Tanor, 6 tahun
  14. Elysabeth Langkai, 1 tahun
  15. Wilem Tanor, 1 tahun

Dengan dibabtisnya Hukum Tua maka masyarakat berangsur angsur mulai meninggalkan kepercayaan lama dan masuk menjadi orang Kristen.

Dengan semakin bertambahnya penganut agama Kristen dan selesainya pepdidikan dari murid-murid pandita yang kemudian menjadi pembantu Pendeta dalam tugas pelayanan baik disekolah maupun tugas penginjilan, maka oleh NZG, pada tanggal 15 Juli 1849 di tempatkalan di negeri Kumelembuai sorang bangsa Jerman lainnya bernama SIBOLD Ulfers ( yang sering dipanggil orang Kumelembuai dengan sebuatan Tuan Luperes) dengan istrnya Henriette Kisner. Pdt Ulfers mengantikan Pdt Carl Herman yang telah bertugas di Kumelembuai selama 11 tahun. Pdt Ulfers adalah seorang yang mempunyai banyak keahlian, dialah yang memperkenalkan cara-cara bertani/berkebun yang lebih baik pada masyarakat, disamping itu dia jga mengajar masayarakat cara membuat rumah ( tukang kayu), menanam buah-buahan,beternak dan lain-lain. Begitu juga denga Henriette Kisner istri Pdt Ulfers mempunyai keahlian-keahlian dan mengajar kepada masarakat. Dengan dibantu nyora-nyora ( istri Guru dan penolong Injil) mengajarkan kepada kaum wanita cara mengatur rumah tangga, menata halaman rumah, ruangan rumah, menanam tanaman hias dan menjahit, dll. Sehingga mula saat itu negeri Kumelembuai menjadi percontohan bagi wanita-wanita mulai dari Rumoong Bawah sampai ke negeri Poigar dan Ongkaw bahkan sampai ke selatan Bolaang Mongondow tempat seorang putra negeri Kumelembuai menginjil yaitu penolong injil Josep Pangkey dan negeri Poopo yaitu Benadus Rantung.

Selama lebih kurang 20 tahun lamanya Pdt Ulfers tinggal ditengah-tengah kampong ( Waleure ) dan pada tahun 1870 pendeta Ulfers pindah kesebelah utara mata air kumelembuai tepatnya dilokas1 SMP Negeri Kumelembuai sekarang dan mendirikan rumah dilokasi itu. Sebagai sorang pendeta dia telah berhasil mendidik dan mengajar sehing dalam pelayanannya ia telah dibantu oleh penolong-penolong injil yang telah diajarnya dan sekaligus sebagai penerjemah dari bahasa melayu ke bahasa Tountemboan. Pendeta Ulfers sangat giat dalam mendidik murid-murid, dalam sekolah binaan Zendeling di Kumelembuai bahkan menyekolahkan murid-murid yang berbakat sampai keluar daerah bahkan sampai ke tanah Belanda, misalnya :

  1. Tertilius Tanor, dikirim ke sekolah pendeta di Belanda
  2. Josephus Pangkey, Johan Pangkey serta Joseph Polla ke Seminari Depok, dll.

Mereka-mereka inilah dikemudian hari menjadi penolong injilpembantu-pembantu pendeta dalam tugas tugasnya.

Berkat ketekunan Pendeta Ulfers dalam pelayanan injil inilah maka pada tahun 1855, Kumelembuai dijadikan sebagai pusat wilayah kerja ( resort) dari 8 jemaat, sehingga dinyanyikalan sebua lagu “ Printa Tuan Luperes”. Sebutan l masyarakat kepada pendeta Ulfers adalah Tuan Luperes.

Pendeta Ulfers menempatkan penolong-penolong injil dan guru-guru asli putra Kumelembuai bukan saja didalam resort Kumelembuai akan tetapi sampai kekampung/ negeri-negeri didalam pemerintaahan distrik Kawangkoaan ( karena pada waktu itu Kumelembuai termasuk dalam distri Kawangkoaan), misalnya : Josep Polla di Malola, Apolos Rantung di Pakuuere, Pangaila di Motoling, Josep Mundung di Koreng, Manuel Umboh di Winaiyan, Jonathan Tanor di Picuan, Moses Saroinsong di Mopolo, Johan Pangkey di Tewasen, Josphus Pangkey di Wanga, dll.

Pengajaran injil yang dilakukan oleh Pdt Ulfers sangat menanamkan pendidikan Kristen dalam membina rumah tangga, dengan mengajak warga gereja unntuk melangsungkan pernikahan secara Kristen dan meninggalkan cara-cara kafir dalam upacara-upacara pernikahannya.

Keluarga-keluarga yang pertama kali dinikahkan adalah :

  1. Ismail Lampus-Bertha Paat

Josep Pangkey-Dorkas Paat

Israel Rintjap-Paulina Talumepa

  1. Adam Lombok-Anna Laloan

Dirk Talumewo-Elizabeth Sumakul

  1. Jacob Rambing-Wihelmina Kere

Zacharias Mundung-Amelia Mongkau

  1. Manuel Umboh-Martina Sumakul

Yohanis Lombok-Amelia Mundung.

Pada tahun 1881 berakhirlah asuhan NZG terhadap sekolah Zending di Kumelembuai, dan kepala sekolahnya yang bernamanb Kolibu dipindahkan oleh Ulfers ke Pontak.

Pada tahun 1870, terjadilah pergantian hukum tua dari hokum tua Corneles Tanor kepada pengangantinya Sebastian Pepah (1870-1886) berkat kerja sama yang baik antara pendeta Ulfers dengan hukum tua maka deibangunlah pastori yang baru dihalaman SMP Negeri sekarang ini dan rumah gerja yang baru.

Setelah pendeta Ulfers melayani selama 36 tahun pada tanggal 2 juni 1885, pdt Ulfers meninggal dunia dan di kuburkan di Kumelembuai di samping kuburan anaknya di lokasi SMP Negeri Kumelembuai sekarang.

Pada bulan juni 1885 ( tidak lama setelah Pdt Ulfers meninggal) resort tengah dan resort Kumelembuai digabungkan menjadi satu resort yaiyu Resort Kumelembuai dengan wilayah meliputi : Mulai dari Rumoong Bawah sampai Poigar dan ke selatan sampai Tumani.

Selah Pdt Ulfers meninggal , maka ia digantikan oleh Pendeta J. Bode ( Juni 1885-11 April 1888) Kemudian digantikan oleh Pendeta Van der Liefde ( 1888-1889) kemudian diganti oleh Yan S. Defries (1889-1907. Pada masa kepemimpinan pendeta inilah banyak tanah-tanah / perkebunan jemaat di dalam resort kumelembuai dijual/ dikontrakan dalam bentuk erpfpak kepdada bangsa asing. Sebagai contoh, perkebunanan yang sekarang dikenal nama Tawaang Teep II dan Tawaang Teep III di Kumelembuai, perkebunan di sepanjang jalan trans Sulawesi sekarang ini, dll.

  1. S Defries digantikan oleh Hans A. Loeff ( 1907-1914 ). Pendeta inilah yang mengikuti jejak Pendeta Ulfers. Ia dengan giatnya mengadakan pengajaran-pengajaran agama Kristen dalam bentuk katkisasi dan melakukan perkunjungan-perkunjunganke jemaat-jemaat di dalam resort Kumelembuai tanpa mengenal lelah. Disamping itu pula dia meningkatkan mutu pen didkan anak sekolah dan berusaha semaksimal mungkin mengajak angota jemaat untuk mengusahakan lading pertanian secara baik sehingga pendeta Hans Loeff mendapata julukan pendeta Ulfers kedua. Setelah pendeta ini dipindahkan ke Langowan ia diganti oleh Jacob Meijer ( 1914-1915 ) , lalu diganti oleh pendeta de Haan ( 1915-1916 ) lalu diganti oleh A.W Wardenburg. Pendeta inilah yang mengusahakan pengiriman seorang putra Kumelembuai mengikuti pendidikan di sekolah Teologia (OEGSGEEST) di negeri Belanda yaitu Albertus Mundung seorang tamatan STOVIL ( School Tot Oplending Voor Inlandse Leeraar ) di Tomohon.

Tahun 1918, Pendeta A.W Waardenburg di pindahkan ke Saparua ( Maluku ) dan diganti oleh pendeta H.Y ten Cate ( 1918-1921 ) Pendeta inilah yang memperkenalkan gereja padang ( ibadah pandang di jemaat Kumelembuai ). Pada Tahun 1921 ia dig anti oleh seorang pendeta petra Minahasa yaitu Pdt. A.Z.R Wenas yang kemudian hari menjadi ketua Sinode GMIM. Pdt. A.Z.R Wena s diganti oleh Pdt H.G Thiel asal Jerman (1922-1924). Pada tahun 1924, ia dipindahkan ke Amurang, tetapi terus melayani di resort Kumelembuai sebagai Warnemeind ( 1924-1926). Pada masa pendeta inilah dumulainya pengumpulan bahan untuk pembangunan rumah gereja yang ke tiga, bahan bahan dari rumah gereja yang kedua yang masih boleh digunakan w

Lau sudah berumur 50 tahun, digunakan/dipakai untuk membuat Kanisa yang pertama yaitu dihalaman rumah penolong Injil Johan J. Polla pada tahun 1926 dan untuk tugas penolong injil dipegang oleh penolong Injil A.M Liando (1926-1930).

Pada bulan januari 1927, hukum tua Ph. Mawitjere mengkoordiner seluruh rakyat untuk turut aktif dalam pembangunan gereja yang ketiga ini. Hukum tua inilah yang membagi bagikan tugas penyediaan bahan-bahan bangunan lewat maraanoan (maapalus). Pada tanggal 31 Agustus 1928 gedung gereja baru diresmikan oleh Predikant/ Ketua Proto Sinode Dr. E.A.A de Vreede.

Setelah penolong Injil A.M Liando meninggal maka tugas sehari-hari dalam resort Kumelembuai di bagikan ke beberapa wilayah kerja (by gementen) dari para penolong injil. Penganti A.M Liando adalah penolong injil sementara Meray (pj sementara/wakil). Tugas harian di jemaat Kumelembuai dijabat oleh penolong injil Johan J Polladan dibantu oleh guru jemaat Marinus Saroinsong. Tahun 1928, penolong injil J.J Polla dibantu oleh kandidat penolong injil Lukas Pondaag. Tahun 1930, J.J Polla di pindahkan ke Motoling dan diganti oleh penolong injil Markus Kainde Rampengan dibantu oleh candidat ( seperti sebuatan vikaris ) Junus Wokas.

Pada tanggal 30 September 1934, GMIM berdiri sendiri dan resort Kumelembuai menjadi Clasis Kumelembuai dengan ketua calasis yang pertama adalah seorang putra Kumelembuai yaitu Ds. Berthus Mundung, yang menjadikan Motoling sebagai pusat clasis Kumelembuai.

M.K Rampengan (1930-1939 diganti oleh penolong Injil Salem Goni (1939-1941) dengan pembantunya candidat Jan. G. Liando dan guru jemaat Ambrosius Saroinsong. Penolong injil Salem Goni digantikan oleh penolong injil J.H.A Solang (1941-1943). Dialah Penlong yang menikahkan 8 pasang sekaligus pada tahun 1942. Ia diganti oleh penlong D,J Lumenah (1943-1944). Tahun 1944 ia mendapat tugas sebagai ketua klasis Kumelembuai di Motoling mengagantikan A.E Wagei. Penlong Lumentah diganti oleh penlong E.R Pakasi (1944-1947), kemudian diganti oleh penlong A.Y Rampen (1947-1948) diganti oleh penlong F.H Mandei (1948) yang meninggal dalam tugas. Maka tugas seharti hari dipegang oleh Penlong Yunus Wokas (1948). Dan tahun 1949 di jemaat Kumelembuai ditempatkan seorang evanglis A.B Lendo (1949-1950) kemudian diganti oleh Ev. Jantje sengkey (1951-1953).

Pada tahun 1951, GMIM menerapkan pereturan baru yaitu g dibagi atas 35 Jemaat, sehingga terbentuklah Jemaat Kumelembuai dengan membawahi 8 jemaat bahagian yaitu : Kumelembuai, Makasili, Malola, Pondos, Tewasen, Elusan, Teep, Karimbow. Istilah penolong Injil diganti dengan nama Pendeta.

Pendeta pertama dalam jemaat Kumelembuai adalah Pdt. F,J Sumakul dibantu oleh ev. Guru jemaat J.Sengkey dan kemudian diganti oleh guru jemaat J.J Langkai (1951-1970).

Pdt F,J Sumakul (1951-1955), dipindahkan ke jemaat Amurang, ia digantikan oleh Pdt A.B Lendo (1955-1963) pada masa pendeta itulah maka sebagian tanah milik jemaat, atas persetujuan BPS GMIM dijadikan perkampungan dengan harga perkintal, kelas I Rp. 1200, kelas II Rp. 1000, kelas III Rp. 900. Tahun 1963, pendeta A.B Lendo dipindahkan ke Motoling, dan diganti oleh Pdt. F.J Sumakul (1963-1970). Pada masa pendeta ini tahun 1967 didirikan kanisa di kintal milik W.F Mawitjere, (tgl 14 juli 1966 pastori terbakar).

Pada tahun 1970 keluarlah peraturan GMIM nmengantikan peraturan tahun 1951, (dimana GMIM dibaggi 35 jemaat) Menurut peraturan baru 1970 maka GMIM terdiri dari 38 wilayah. Jemaat (wilayah) Kumelembuai menjadi pusat pekabaran injil di Minahasa (seberang sungai Raniapo) sejak 1883, dihapuskan. Dalam penghapusan wilayah Kumelembuai ini maka 4 jemaat yaitu : Tewasen, Pondos, Elusan, Teep digabung kewilayah Amurang dan 4 jemaat lainnya yaitu : Kumelembuai,Karimbow Malola, Makasili digabung menjadi wilayah Motoling. Disamping itu peraturan tahun 1970 maka guru jemaat dihapuskan dan diganti oleh guru agama.

Tahun 1970 pdt F.J Sumakul dipindahkan menjadi ketua wilayah Tompaso Baru dan diganti oleh Pdt. Johanis Ruus SmTh. Disamping melayani jemaat Kumelembuai juga melayani jemaat Makasili dan Malola. Pada masa Pdt Ruus (1970-1975) maka atas kerja sama yang terjalin dengan baik pendeta dan hokum tua J.E Pongantung, dibangunlah hamper bersamaan pembangunan :

  • Balai pengobatan GMIM semi permanen
  • Gedung gereja bentuk permanen yang menggantiakn gereja yang dibangun   tahun 1928 (hamper 50 tahun)
  • Gedung TKK GMIM
  • Peremajaan kelapa dan penanaman jengki di kebun jemaat.

Sebagai penganti guru jemaat, maka pada tahun 1973 ditempatkanlah seorang guru agama yang bernama Lily Lapian ( Ny langkai) sebagai guru agama yang pertama di jemaat Kumelemnuai.

Tahun 1975, Pdt J. Ruus dipindahkan ke Tenga, menjelang mutasinya ke Tenga, ia dibantu oleh seorang vikaris yaitu Edwin Regar SmTh. Yang kemudian dilantik menjadi pendeta menggantikan Pdt J. Ruus.

Pdt E.R.Y Regar SmTh 1975-1976 digantikan oleh Pdt J.M Sangande SmTh (1976-1978) kemdian digantikan oleh pdt. P.B Sekeon (1978-1980), setelah itu digantikan oleh pendeta wanita yang pertama yaitu Pdt. V.C.G Ngantung ( Ny. Pangkey) (1980-1985). Kemudian diganti oleh Pdt. Ny. Watania Rendeo SmTh. (1985-1990). Pada masa tugas pendeta inilah jemaat dimekarkan menjadi 2 jemaat yaitu jemaat Imanuel Kumelembuai ( jemaat Induk) dan jemaat Exodus Kumelembuai. Pdt Watania Rendeo digantikan oleh Pdt. Ny, Sinewe-Mangolo STh. (1990-1995). Kemudian diganti oleh Pdt. T.D Rambi STh   (1995 – 2001) Pada tanggal 3 februari Kumelembuai kembali dijadikan Wilayah yangmembawahi jemaat yaitu : Imanuel Kumelembuai, Exodus Kumelembuai, Imanuel Malola, Marantha Makasili, Syalom Karimbow, Imanuel Tokin. Sebagai ketua Wilayah yang pertama adalah Pdt T.D Rambi, STh. Yang sekaligus sebagai ketua jemaat Imanuel Kumelembuai. Segbagai Pdt pelayanan adalah Pdt. Ny. Vita Mawitjere Poluan dan Pdt. S. Runtuwene-Rempowatu STh yang melayani BIPRA.

3 respons untuk ‘Sejarah GMIM Sentrum Imanuel Kumelembuai

  1. sunb3am 14 Mei 2018 / 18:43

    bagaimana dengan sejarah nama jemaat dari ‘Imanuel’ menjadi ‘Sentrum Imanuel’?

    Suka

    • Anonim 26 Maret 2020 / 07:34

      saya kira memang dari sononya, nama jemaat ialah GMIM “Sentrum Imanuel” Kumelembuai

      Suka

  2. Yos 11 Februari 2022 / 19:42

    Sebastian lelah apakah temani di Desa Makasili?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s